Terdorong rasa ingin memberi dan berbagi kepada sesama, seorang sahabat Rasul SAW bernama Amr bin Al Jamuh yang berumur cukup tua bertanya, ”Wahai Rasul, aku punya sejumlah harta, bagaimana cara aku menyedekahkannya dan kepada siapa aku infakkan?”
Rasulullah SAW berpikir. Beliau belum mendapat ide untuk menjawab pertanyaan ini, sesaat kemudian, datanglah firman Allah SWT mengabarkan tentang jalur-jalur infak sunnah didalam QS.2:215. Disebutkan, bahwa jalur infak sunnah yang utama adalah sebagaimana tertera di dalam ayat itu, yaitu: orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Kelima golongan ini mendapat skala prioritas untuk diberi infak sunnah.
Ketika Rasulullah SAW masih hidup, datanglah seorang pemuda yang mengadu kepada beliau tentang ayahnya yang suka mencuri harta milik sang anak. Rasul SAW berujar, “panggilah ayahmu untuk menghadapku”. Saat ia pergi untuk memanggil ayahnya,
Beberapa saat kemudian, sang pemuda datang bersama ayahnya, kemudian Rasul SAW bertanya,” wahai bapak, anakmu mengdukan bahwa engkau telah mencuri hartanya, apakah itu benar? Sang ayah menjawab,” ya Rasul, silakan tanya kepadanya, telah aku apakan uangnya, apakah aku berikan kepada bibinya atau aku makan sendiri?”. Rasul SAW menukas, bolehkah aku tahu apa yang telah kau ucapkan didalam hatimu dan tidak terdengar oleh kedua telingamu?
Demi Allah, aku semakin percaya bahwa engkau adalah utusan Allah. Sampaikanlah ucapanmu itu! Rasulullah SAW mempersilahkan. Tidak dinyana ayah pemuda tadi membaca sebuah syair yang ia gubah untuk si pemuda, buah hati belahan jiwa ayahnya.
Saat engkau lahir, aku memberimu makanan
Saat engkau beranjak besar, aku selalu setia menjagamu
Engkau diberi minuman atas jerih payahku
Jika engkau sakit dimalam hari, selama itu mataku tak terpejam tak bisa tidur karena memikirkan sakitmu
Hingga tubuhku limbung sebab kantuk yang menyerang
Seolah akulah yang sakit, bukan engkau wahai anakku
Aku meneteskan air mata sebab khawatir engkau akan mati
Padahal aku tahu bahwa ajal manusia telah digariskan
Saat engkau beranjak dewasa
Saat dimana telah pantas aku menggantungkan diri padamu
Kau balas diriku dengan kekerasan dan kekasaran
Seakan engkau satu-satunya pemberi kebaikan padaku
Andai saja tak dapat kau penuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku tak ubahnya seperti seorang jiran yang hidup bertetangga
Usai mendengarkan syair tersebut, Rasulullah SAW meneteskan air mata lalu menghardik sang anak dengan sabdanya “ Anta wa maaluka li abiika. engkau dan hartamu adalah milik ayahmu” (HR Abu daud & Ibnu Majah)
Pemuda itu tertunduk lesu dan merasa malu, selama ini ia tidak menyadari kealpaan dirinya yang telah menyia-nyiakan ayahnya yang begitu mencintai dirinya. Ia pun mengiklaskan harta yang telah diambil ayahnya, lalu keduanya berpelukan saling memaafkan. Itulah sifat manusia, suka lupa terhadap jasa orang lain bahkan kepada orang tua sendiri. (sumber: Meraih Rezeki Tak Terduga, Ahmad Yasin Ibrahim,2007)
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita tersebut, apakah kita selama ini berbuat begitu kepada orang tua kita, yakinlah balasan Allah SWT akan datang bila kita menyia-nyiakan orang tua.
