Rabu, 25 Maret 2009

Hakikat Nafkah dan Infak

Terdorong rasa ingin memberi dan berbagi kepada sesama, seorang sahabat Rasul SAW bernama Amr bin Al Jamuh yang berumur cukup tua bertanya, ”Wahai Rasul, aku punya sejumlah harta, bagaimana cara aku menyedekahkannya dan kepada siapa aku infakkan?”

Rasulullah SAW berpikir. Beliau belum mendapat ide untuk menjawab pertanyaan ini, sesaat kemudian, datanglah firman Allah SWT mengabarkan tentang jalur-jalur infak sunnah didalam QS.2:215. Disebutkan, bahwa jalur infak sunnah yang utama adalah sebagaimana tertera di dalam ayat itu, yaitu: orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil. Kelima golongan ini mendapat skala prioritas untuk diberi infak sunnah.

Ketika Rasulullah SAW masih hidup, datanglah seorang pemuda yang mengadu kepada beliau tentang ayahnya yang suka mencuri harta milik sang anak. Rasul SAW berujar, “panggilah ayahmu untuk menghadapku”. Saat ia pergi untuk memanggil ayahnya, Jibril AS datang menemui Rasullah SAW. Jibril berkata, “wahai Muhammad, bila ayah pemuda itu datang, tanyakanlah kepadanya apa yang telah ia ucapkan di dalam hati dan tidak terdengar oleh kedua telinganya”.

Beberapa saat kemudian, sang pemuda datang bersama ayahnya, kemudian Rasul SAW bertanya,” wahai bapak, anakmu mengdukan bahwa engkau telah mencuri hartanya, apakah itu benar? Sang ayah menjawab,” ya Rasul, silakan tanya kepadanya, telah aku apakan uangnya, apakah aku berikan kepada bibinya atau aku makan sendiri?”. Rasul SAW menukas, bolehkah aku tahu apa yang telah kau ucapkan didalam hatimu dan tidak terdengar oleh kedua telingamu?

Demi Allah, aku semakin percaya bahwa engkau adalah utusan Allah. Sampaikanlah ucapanmu itu! Rasulullah SAW mempersilahkan. Tidak dinyana ayah pemuda tadi membaca sebuah syair yang ia gubah untuk si pemuda, buah hati belahan jiwa ayahnya.

Saat engkau lahir, aku memberimu makanan

Saat engkau beranjak besar, aku selalu setia menjagamu

Engkau diberi minuman atas jerih payahku

Jika engkau sakit dimalam hari, selama itu mataku tak terpejam tak bisa tidur karena memikirkan sakitmu

Hingga tubuhku limbung sebab kantuk yang menyerang

Seolah akulah yang sakit, bukan engkau wahai anakku

Aku meneteskan air mata sebab khawatir engkau akan mati

Padahal aku tahu bahwa ajal manusia telah digariskan

Saat engkau beranjak dewasa

Saat dimana telah pantas aku menggantungkan diri padamu

Kau balas diriku dengan kekerasan dan kekasaran

Seakan engkau satu-satunya pemberi kebaikan padaku

Andai saja tak dapat kau penuhi hakku sebagai ayah

Kau perlakukan aku tak ubahnya seperti seorang jiran yang hidup bertetangga

Usai mendengarkan syair tersebut, Rasulullah SAW meneteskan air mata lalu menghardik sang anak dengan sabdanya “ Anta wa maaluka li abiika. engkau dan hartamu adalah milik ayahmu” (HR Abu daud & Ibnu Majah)

Pemuda itu tertunduk lesu dan merasa malu, selama ini ia tidak menyadari kealpaan dirinya yang telah menyia-nyiakan ayahnya yang begitu mencintai dirinya. Ia pun mengiklaskan harta yang telah diambil ayahnya, lalu keduanya berpelukan saling memaafkan. Itulah sifat manusia, suka lupa terhadap jasa orang lain bahkan kepada orang tua sendiri. (sumber: Meraih Rezeki Tak Terduga, Ahmad Yasin Ibrahim,2007)

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari cerita tersebut, apakah kita selama ini berbuat begitu kepada orang tua kita, yakinlah balasan Allah SWT akan datang bila kita menyia-nyiakan orang tua.

Jumat, 13 Maret 2009

Naila Jalan-jalan

Minggu pagi yang cerah n sejuk di kota Depok.....

Nga biasanya nay bangun jam 6 pagi.. mungkin ingat janji semalam. "ayah renang dong sama mas rafi ya" . itu kata yang terlontar dari mulut manisnya (imut kale). Iya udah lama juga kami tidak ngajak naila renang, mungkin renang jadi kesenangan nay karena main air terus.

Ibunya masak pagi-pagi menyambut keinginan nay untuk renang, dia udah mulai kocar-kacir pengen cepet sampe kolam renang, dengan lantangnya nay bilang " ibu ayo cepetan renang", sigaplah ibunya yaiyalah ntar ibu masak dulu buat makan disana klo lapar tapi sekarang makan dulu ya supaya ngak kosong perutnya. inilah arahan seorang ibu dengan sayangnya sehingga kekebalan anak akan terjaga bila asupan tubuhnya cukup.

Jam 8 tepat nay telepon rafi mo ngajak renang, kayak anak udah gede aja nay ngomong ditelepon dengan senangnya ngajak p'de n rafi renang. dari kejauhan di ujung telepon aku dengar percakapan nay dengan rafi mereka janjian bawa ban renang n makanan.

singkat cerita kamipun berangkat ke perumahan bukit golf, memang lokasi kolam renang inilah yang lebih deket dengan rumah kami, disepanjang perjalanan nay terus berceloteh dengan senangnya nay bernyanyi seakan-akan kemenangan mengajak orangtuanya renang dia dapatkan.
itulah kebahagian anak yang diekspresikan dengan bernyanyi, wah sama juga kan orang dewasa juga, melihat perkembangan nay yang lincah, smart kami jadi senang karena yang kami lakukan didapatkan dari seorang nay walau harus terus mengajarinya sesuai tingkatan usianya. kami bersyukur terimak kasih ya Allah SWT kami telah diberikan amanah untuk merawat naila.

Naila dengan sigap mengikuti arahan untuk pelemasan otot-otot dulu supaya ga kram di air ya... bryuuuuur nay nyebur kolam, langsung naik plosotan srosoooooooooooooot dia turun meluncur bryuuuuuuur nyelem air, waaaah timbul lagi kegiatan itu dilakukannya berulang ulang sampai nay kecapean n bilang ibu minum susu dulu ya...

lama kami berenang sampai item neh badan abiz renang pagi jam 9 sampe jam 11 pastilah terik matahari udah mulai panas apalagi hari itu ga ada tanda-tanda ujan.

tepat jam 11 kami pulang menyusuri pinggiran tol jagorawi pulang rumah, dengan semilir angin, nay mulai merasakan kantuk menyerangnya, hampir sampr rumah nay udah tidur dimotor. ya... sampe rumah langsung tidur deh kecapean dengan aktifitasnya,....

nah itu dulu ya belajar nulisnya ntar sambung lagi moga minggu besok dapatkan keceriaan lagi salam nay